Langsung ke konten utama

Postingan

TERTUNDA

Sejak dinyatakan lulus pada 3 Juli 2018 lalu, pertanyaan, "Kapan wisuda?", seringkali menggelayut di telinga. Wisuda gelombang IV bulan Agustus 2018 lewat. Wisuda gelombang I bulan November 2018 lewat. Kecewa? Tidak. Karena saya memiliki alasan lain yang lebih penting untuk disegerakan. Mengemban amanah untuk memimpin sebuah event yang berurusan dengan ribuan orang itu tidak mudah. Butuh tenaga, mental dan fisik yang prima. Maka revisian tesis untuk sementara waktu saya tunda walau akhirnya otomatis menunda wisuda dan tertahannya ijazah kelulusan saya. Tak masalah...karena saya yakin Alloh sudah mengaturkan jadwal hidup saya. Selanjutnya pada bulan November 2018 saya berjanji kepada diri saya sendiri, akan membayar tunai semuanya di awal tahun 2019. Januari 2019, sebetulnya saya harus menyelesaikan laporan event. Namun saya ingat janji saya di bulan November 2019. Akhirnya dengan bantuan tim, laporan event 50% selesai. Saya kembali menuntaskan revisian tesis, menutup dahul...

SUDAH WAKTUNYA BERPENDAPAT (Bicara Moralitas)

Semenjak Pilpres menjadi isu penting di media sosial, saya hanya mengamati tanpa ingin berkomentar lebih. Kenapa? Karena saya pikir hanya membuang tenaga jika berkomentar di media sosial. Lebih baik berdiskusi di ruang kelas sambil mengupas teori-teori politik yang relevan. Begitu banyak "orang pintar" yang belajar politik secara otodidak atau melalui "kuliah online"  dan hanya menangkap berbagai informasi dan ilmu karena latar belakang dukungan terhadap seseorang tanpa memahami teori politik yang ada. Begitu banyak orang yang "pintar" berkomentar mengenai politik sambil "membodoh-bodohkan"  dan menghina orang lain. Begitu banyak manusia yang membinatangkan manusia lain dengan cara "mencebongkan" atau "mengampretkan". Padahal Alloh menciptakan manusia sebagai makluk paling sempurna yang dibekali akal untuk berpikir. Begitu banyak berita hoax beredar dengan deras yang menyebabkan sesat pikir dan perpecahan dalam medi...

#10yearswannabechallenge

Lagi musim hastag#10yearschallenge di berbagai medsos. Tujuannya adalah memperlihatkan perbedaan foto 10 tahun yang lalu dengan foto terkini. Seru-seruan aja sih ya terlihatnya. Ada yang tadinya kulit sawo matang jadi putih, kurus jadi gemuk, sukses jadi makin sukses, tidak berkerudung jadi berkerudung, dan lain sebagainya. Namun, keseruan tersebut menimbulkan pro dan kontra juga. Ah tapi apa sih di sini yang ga pro kontra? Dari masalah serius sampai masalah remeh temeh ujung-ujungnya jadi bahan perdebatan. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, saya sendiri mengapresiasi ide #10yearschallenge karena ternyata banyak banget orang kreatif yang ikutan challenge itu. Ide-ide foto yang di publish jadinya tidak selalu fotomorfosis foto diri, melainkan menyandingkan foto diri dengan tokoh-tokoh favoritnya. Pada akhirnya selain jadi bahan nostalgia, hastag tersebut cukup bisa menghibur dalam situasi politik negeri ini yang sedang memanas (walau banyak juga sih yang bikin hastag ini akhi...

Mode Pakaian Emak Favorit Bocah

Berbincang dengan anak sulung tentang mode berpakaian masa kini. Dia mulai suka memberi komentar terhadap mode berpakaian dimanapun dia lihat. Di sekolah, di mall, di jalan, di pasar, di tempat olah raga, diam-diam dia memperhatikan. Seringkali dia langsung sampaikan juga kepada emaknya perihal fenomena berpakaian masa kini. Banyaknya sih dia komentarin cara berpakaian emak-emak. Komentar pertama, "Bunda..bunda..tadi aku liat di sekolah ya, ibu-ibu pake kerudung tapi bajunya ketat, belakangnya keliatan". Komentar kedua, "Bunda, itu teh pake kerudung tapi meni riweuh ya. Bajunya panjang banget sampe ke lantai. Atuh kotor ya bun". Komentar ketiga, "Bunda, kok orang pake kerudung nyanyi dangdut sambil joget-joget gitu sih? Geuleuh". Komentar keempat, "Bun, itu pake baju sama kerudung meni ga nyambung. Masa bajunya bunga-bunga kerudungnya belang-belang?" Komentar kelima, "Bun kenapa sih orang suka pake baju bolong?" Komenta...

Sensasi Makan di Tengah Asap

Pernah makan di tengah asap? Seru juga loh. Sensasi makan di tengah asap bisa dirasakan di kawasan sate maranggi Plered, Purwakarta. Lokasinya sebelah stasiun Plered. Kalau dari bandung sekitar 1 jam jika lewat tol. Di tempat ini, ada beberapa tukang sate. Saat dia membakar sate, para pembeli duduk di sekelingnya. Jadilah asap dari pembakaran sate hinggap menyerbu para pembeli. Awalnya sih ga nyaman, tapi lama-lama ya dinikmati saja karena terbayar oleh nikmatnya sate maranggi yang disajikan fresh dari pembakaran (pembakaran kok fresh..hihi). Nasi berbungkus daun dengan porsi kecil disediakan di tempat itu. Satu tusuk sate tidak terlalu banyak daging/lemaknya, jadi sekali atau 2 kali makan ya langsung habis. Hal tersebut akhirnya membuat ketagihan dan ga kenyang-kenyang. Sambalnya pun bisa dipilih sendiri, ada sambal kacang dan sambal kecap, tidak lupa acar sebagai pelengkap. Kalau mau yang berkuah-kuah bisa pesan sop daging. Oiya, daging yang digunakan sebagai bahan baku sate a...

Angkot

Angkot, kendaraan favorit masa sekolah. Pertama kali menaiki angkot saat SMP karena jarak cukup jauh. Tema angkot kali  ini terinspirasi dari kejadian 3 hari yang lalu. Setelah sekitar setahun kebelakang saya lebih banyak menggunakan ojol, akhirnya terpaksa menggunakan angkot karena hujan deras. Penumpangnya hanya 3 orang dan sang sopir menyetel lagu-lagu tembang kenangan, nostalgia jadinya. Memandangi ruang kosong yang amat luas, jadi teringat suka duka naik angkot di masa sekolah dulu. Mungkin beberapa pembaca disini merasakan hal yang sama. Ada beberapa hal yang ngangenin dan nyebelin dari angkot. 1. Sensasi  "75" Sensasi menaiki angkot kala itu adalah dempet-dempetan dan kalimat, "ayo geser...geser...tujuh lima..tujuh lima..". Bagi anak-anak sekarang mungkin sudah tidak paham makna kalimat tersebut karena sudah lebih banyak naik kendaraan menggunakan aplikasi online. Termasuk saya juga sangat terhitung berapa kali naik angkot selama 1 tahun kebelakang in...

Bagaimana Jika

Manusia pasti punya rencana yang terjadwal maupun hanya berupa khayalan. Sesuatu yang terjadwal tidak akan terealisasi jika pelaksanaannya hanya khayalan, sedangkan khayalan bisa terealisasi jika pada akhirnya dijadwalkan. Semua rencana pasti ada jalannya,  sudah ada yang menetapkan. Sematang apapun rencana dan persiapan kita, jika Alloh belum mengijinkan, maka gagal lah rencana itu. Tema kali ini memaksa untuk menuliskan kalimat "bagaimana jika" yang kebetulan sedang mengisi ruang pikir beberapa hari kebelakang. Tidak akan dituliskan disini karena sifatnya masih rahasia. Rahasia saya dan DIA. Masih dipertimbangkan dengan matang dan menunggu DIA mengetok palu. Jadi sampai waktu itu tiba, 5 pertanyaan bagaimana jika: 1. ..... 2. ..... 3. ..... 4. ..... 5. ..... Akan terus mengisi ruang pikir di kepala yang akhirnya terhubung ke hati. Biarlah waktu yang menjawab 5 pertanyaan diatas. Lalu, bagaimana jika...... (Ah biar saya dan DIA yang tahu) @30hariberce...