Langsung ke konten utama

Anak Gelanggang (AngGel)

Repost FB - 13 Desember 2016

Di saat gelanggang bisa menjadi arena bermain dikala istirahat pertandingan...bermain kejar-kejaran, bermain peran, bahkan bermain petak umpet di meja juri...

Di saat gelanggang dan sekitarnya bisa menjadi tempat tidur, tempat makan, tempat bermain, tempat belajar dan tempat bersosialisasi dengan orang baru...

Di saat mereka tetap kondusif saat sang emak sedang bertugas...(walau ada kalanya emak lain harus "ngabebenjokeun" terlebih dahulu dengan ngungudag ucing misalnya....hehe...)

Di saat mereka mulai ingin tahu ini itu tentang gelanggang, ingin ikut serta kegiatan yang dilakukan di gelanggang dan sekitarnya (ikut kakak2 nya berbaris, mengikuti gerakan wasit dan juri, mengikuti sikap pasang saat atlet bertanding dan masih banyak lagi)

Di saat mereka tetap sehat dari awal menginjak gelanggang sampai pertandingan usai...

Lupa, sudah pertandingan yang keberapa mereka "ngingintil" emaknya bertugas...yang pasti Quin sudah menjadi anak gelanggang sejak usia 6 bulan (tepat di minggu pertama dia boleh mulai makan)...seiring bertambahnya usia...aktivitas mereka semakin beranekaragam...

Semoga keberadaan mereka selama ini tidak merepotkan...semoga keberadaan mereka selama di gelanggang bisa memberi hiburan di saat kelelahan melanda ..semoga kelak kalian menjadi anak gelanggang yang penuh semangat dan sportifitas...semoga aktivitas selama pertandingan bisa melatih kedisiplinan kalian berdua...

#angGel
#kejurnaspdantarapelajar
#cikiciiiiw!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERUSUHAN SAMPIT (DAYAK VS MADURA) SALAH SATU ANCAMAN “HUMAN SECURITY’

Oleh : Sintia Catur Sutantri (170820160009) A.    Faktor Pemicu Kerusuhan Sampit Kerusuhan yang terjadi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi antara Suku Dayak dan Madura sejak berdirinya Kalimantan Tengah . Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan. Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke selu...

Manfaat Pencak Silat untuk Anak Usia Dini

"Anak saya masih TK, boleh ga ikut latihan bela diri?" "Duh anak saya aman ga ya kalau ikut latihan silat? Takutnya dia jadi suka pukul temannya." "Wah bahaya banget deh anak kecil udah ikut latihan silat?" Pertanyaan diatas adalah contoh kekhawatiran orang tua atau masyarakat pada umumnya tentang keikutsertaan anak usia dini dalam aktivitas beladiri, khususnya pencak silat. Padahal, pencak silat bukan sekedar bela diri. Ulasan manfaat pencak silat secara umum sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya. Silahkan kunjungi link http://cikizentukangetik.blogspot.co.id/2017/11/manfaat-silat-bukan-sekedar-untuk-bela.html?m=1 . Kali ini tulisan saya khusus mengulas manfaat pencak silat untuk anak usia dini. Saya mulai melatih pencak silat anak usia dini sejak tahun  2008 di  Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri . Tak terasa, ternyata sud ah hampir 10 tahun. Dalam perjalannya saya selalu belajar dari anak-anak dan orang tua mereka. B...

DIPLOMASI BUDAYA JEPANG DI INDONESIA (ANALISIS PERSPEKTIF LIBERALISME)

Oleh : Sintia Catur Sutantri (170820160009) A.   Latar Belakang Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II membuat Jepang harus membenahi diri guna membangun kembali negaranya dan mengembalikan citra negaranya di dunia Internasional. Kekalahan perang berdampak pada evolusi yang dilakukan n egara itu sendiri, yakni adanya perubahan dalam diplomasi publik. Sebelumnya Jepang terkenal dengan kekuatan militernya, Jepang bahkan melakukan penjajahan di beberapa n egara, mulai dari China, Korea bahkan Indonesia. Dampak dari penjajahan Jepang terhadap beberapa Negara di Asia membawa citra Jepang kian terpuruk sehingga pasca Perang Dunia II, Jepang berusaha untuk merevitalisasi diplomasinya yakni dengan cara yang lebih soft dengan tidak menggunakan militer. Perubahan kebijakan diplomasi ini terkait dengan Deklarasi Postdam yang menyatakan Jepang dilarang menggunakan kekuatan militernya tetapi diizinkan untuk melakukan perdagangan bebas. Berdasarkan isi Deklarasi Postdam maka Jepang b...