Langsung ke konten utama

Postingan

BARU TAHU KALAU

  Baru tau kalau anak yang mengamen di perempatan jalan itu mencatat uang yang diperolehnya. Hal tersebut baru kuketahui sore ini saat sedang dalam perjalanan pulang. Biasanya aku hanya lewat, tapi tidak ada aktifitas yang menarik selain anak-anak yang sedang menyanyi dan berjoget alakadarnya di kala lampu lalu lintas berwarna merah. Tetapi sore ini, aku tidak sengaja memperhatikan gerak gerik anak yang berada di bawah lampu lalu lintas itu sedang sibuk mengeluarkan uang dari keresek biru lalu menghitungnya. Tak lama kemudian, dia menulis di buku yang tergeletak di lantai trotoar. Awalnya aku tidak yakin bahwa dia sedang menuliskan nominal uang yang dipeganggnya. Tetapi beberapa lama kuperhatikan, sepertinya betul, dia mencatat uang yang dipegangnya tadi.  Setelah uang tersusun rapi, dia memasukannya lagi ke dalam keresek biru sambil menggigit ballpoint  dan memperhatikan rekan lain yang masih bernyanyi dan berjoget dengan penuh percaya diri diantara para pengendara seped...

MEMPERSIAPKAN DUKA

Sekitar 6 bulan lalu, berita duka datang dari seorang kawan yang ditinggal suaminya. Dia memiliki 3 orang anak usia SD, balita dan bayi. 4 minggu yang lalu, berita duka datang lagi. Teman sekelas anakku yang masih kelas 4 SD ditinggal sang ayah untuk selamanya.  2 minggu yang lalu, berita duka kembali datang. Lagi-lagi teman sekelas anakku ditinggal sang ibu untuk selamanya.  Belum lagi berita-berita lain yang kubaca dan kudengar tentang anak-anak yang ditinggal orang tua untuk selamanya. Sepertinya, sudah seharusnya mempersiapkan anak-anakku atas hal-hal yang tidak terduga, dalam hal ini kematian orang tuanya.  Aku harus bersyukur, karena ditinggal kedua orang tua dalam waktu yang beriringan di saat usiaku sudah matang untuk menerimanya. Kalau ditanya kesiapanku ditinggal oleh mereka, tentu saja jawabannya tidak siap. Karena sampai sekarang pun aku selau merindukan mereka. Membayangkan mereka ada di hadapanku saat senang dan sedihku. Lalu jika aku melihat kedua anakku ya...

Menulis Cerita Liburan

Sebelum liburan sekolah tiba, tepatnya saat pembagian rapor online, bu guru berkata, " Untuk mengisi waktu liburan putra-putrinya,  silakan membuat cerita bergambar ya. Boleh di kertas bergaris maupun HVS 🙏". Libur telah tiba...libur telah tiba...horee!! horee!! horee!!. Hari pertama, aku mengingatkan, "Quin, mulai hari ini menulis cerita liburan ya". Lalu Quin bertanya, "Emang kita mau liburan kemana?. "Di rumah aja", jawabku. "Ah ga seru, nanti aku nulis ceritanya kalau pergi-pergi aja", jawab nya lagi. "Kan belum boleh pergi-pergi. Masih ada Corona", jelasku. Dia sepertinya paham. Hari kedua, supaya mau menulis sepertinya harus diajak pergi nih anak. Akhirnya kuajak saja pergi ke kampus. Sebelum berangkat, aku bujuk lagi supaya mau menulis, "Quin, hari ini nulis cerita ya. Tuh liat bu guru udah ngingetin di WA (sambil ku tunjukkan WA dari bu guru). Dia bertanya, "Emang kita hari ini mau pergi kemana?". "Ikut...

KEMAH (KEMping di imAH)

  Liburan kali ini mau kemana ya? Bingung, karena redzone semakin meluas saja. Jadi kalaupun mau, musti jauh dari keramaian dan di alam terbuka. kamping bareng keluarga kayaknya seru deh. Satu minggu kebelakang kami mencari informasi mengenai tempat kamping yang asyik mulai dari lokasi, fasilitas, dan tentu saja harga nya🤑. Tempat yang dicari tentunya harus cocok dengan anak-anak, karena kita ini mau kamping sekaligus ngasuh. Satu-persatu pengelola tempat kamping kami chat lalu di share kepada anggota keluarga lain. Namun akhirnya kita berpikir ulang karena lumayan menguras dompet juga loh gaiiis😀. Setelah diskusi panjang x lebar x tinggi, munculah satu kesimpulan bahwa kita kamping di Majalaya saja, di rumah bude. Lokasi di pegunungan, ada kolam ikan, dan pasti lebih hemat karena tidak perlu sewa tempat. Cocok lah! Bungkuuusss!!. Namun, rencananya gagal maning karena sedang musim hujan. Kami rasa kondisinya kurang baik terutama untuk anak-anak (ditambah masih ada yang balita)....

ZOOMBASTIS

Zoom lagi...zoom lagi... Pada akhirnya aplikasi itu menjadi sangat penting belakangan ini.  Kegiatan belajar mengajar, berdiskusi, rapat, seminar, nonton bareng, bahkan silaturahmi saat hari raya pun dilakukan melalui zoom.  Namun sebalnya, efek dari aplikasi ini waktu rasanya semakin ga menentu. Seringkali merasa ga punya hari Minggu, ga punya jam tidur teratur, ga punya ketenangan mau rebahan karena bisa saja undangan zoom mendadak.  Eiiits..tp perasaan sebal itu muncul saat awal-awal saya mengenalnya. Selanjutnya, kondisi pun menyesuaikan dengan mute dan off cam.  Pasti banyak banget deh yang pake aplikasi zoom. Dibandingkan dengan aplikasi lain, zoom memiliki fitur lebih lengkap dan saya rasa lebih nyaman digunakan. Percakapan selama di zoom bisa di record dan penyimpananannya bisa di cloud atau device. Zoombastis!! Banyak hal unik yang terjadi efek dari penggunaan zoom ini.  Atasan kemeja rapi namun bawahan celana tidur🤭; masuk zoom belum mandi tapi dangda...

BERHENTI

Hampir satu tahun sejak diumumkannya penyebaran Covid-19 di Indonesia saya berhenti dari beberapa aktifitas rutin. Berhenti mengantar jemput anak sekolah. Karena sang anak melaksanakan PJJ alias pembelajaran jarak jauh. Aktifitas sehari-hari berubah menjadi timer dalam belajar dan mengerjakan tugas yang tidak jarang disertai dengan tanduk di kepala. Berhenti melatih silat dari satu tempat ke tempat lain. Aktifitas melelahkan tetapi selalu ada kepuasan dan perasaan terhibur di dalamnya. Bagaimana tidak? Sy melatih mulai dari anak usia TK hingga kuliah. Disana saya harus bisa mengatur energi dan suasana hati. Saat suara hilang dan tenaga tinggal seperempat tetapi anak2 dapat menyerap ilmu, disitulah ada kepuasan. Tapi kalau sudah mengencangkan urat leher dari awal hingga akhir latihan dan anak-anak tetap tidak kondusif, ya sudah lah kita bermain saja. Berhenti mengajar mahasiswa di kampus. Hal ini ternyata rasanya nano-nano. Biasanya kendala hanya di kisaran mencari ruangan, proyektor, s...

Menjadi Pemimpin untuk Diri Sendiri

Seringkali... Saat waktunya beribadah, begitu berat, begitu malas. Hingga akhirnya terlewatlah waktu yang sudah ditentukan. Seringkali... Saat bangun tidur, begitu berat, begitu malas. Hingga akhirnya kita terlambat dan merugikan orang lain. Seringkali... Saat ditagih tanggung jawab, kita merasa santai, merasa tak ada beban. Hingga akhirnya ada pihak yang tidak terpenuhi hak nya. Seringkali... Saat diberi tugas, begitu berat, begitu malas. Hingga akhirnya tertunda dan beban semakin bertambah karena tugas lain pun datang. Seringkali... Saat ada kesempatan untuk bersedekah, begitu berat, begitu penuh perhitungan. Hingga akhirnya berlalulah kesempatan itu. Seringkali... Kita menyesal tidak melalukan apa yang seharusnya dilakukan pada waktu yang tepat. Seringkali... Kita harus diingatkan untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan pada waktu yang tepat. Padahal... Orang lain pun mungkin mempunyai masalah yang sama dengan kita. Maka... Akan ada masa dimana setiap individu menjadi pemimpin...