Langsung ke konten utama

First 2018 Trip


Dari tanggal 31 Desember 2017 sudah berniat untuk mengunjungi Tebing Keraton pada tanggal 1 Januari 2018.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Alasannya simple saja, karena 1 Januari itu tanggal merah dan keluarga kecil kami hanya bisa resfreshing bersama di tanggal merah. Selain itu, kami memang suka hiking. ㅤㅤ
ㅤㅤ
Ba'da subuh kami sudah berangkat ditemani oleh udara dingin yang menusuk sampai tulang. Dinginnya benar-benar nyeesss. Jalan yang menanjak dan menurun, bergelombang dan mulus, semua kami lalui demi pemandangan indah yang akan kami lihat di ujung perjalanan.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Sekitar jam 05.15 kami sudah sampai di kawasan Tebing Keraton. Karena jarak dari rumah tidak terlalu jauh, waktu tempuh tidak lebih dari 1 jam. Di pintu masuk orang-orang sudah mengantre. Namun pintu belum dibuka. Tak lama setelah kami memarkirkan kendaraan, pintu masuk pun dibuka.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Oiya, tanpa sengaja ternyata kami bagaikan napak tilas. Kami pertama kali ke Tebing Keraton 2 tahun yang lalu dan tepat di tanggal 1 Januari. Harga tiket masuk nya pun naik lebih dari 2 kali lipat. Kalau dulu hanya 5 ribu rupiah, kali ini 12 ribu rupiah.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Saat masuk ke area Tebing Keraton, ada pemandangan baru. Jalanannya sebagian sudah beralaskan kayu sehingga tidak terlalu licin jika tanah basah sehabis hujan. Pemandangan yang berbeda dengan 2 tahun yang lalu yaitu kali ini kami bertemu kabut. 2 tahun lalu kami ke Tebing Keraton siang hari setelah mengunjungi Taman Hutan Raya Ir.H. Djuanda  terlebih dahulu. ㅤㅤ
Berangkat subuh menembus dingin dan kabut terbayar sudah dengan suguhan lukisan alam yang tak terbantahkan keindahannya.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Di sini kami memandangi ciptaan-Nya yang begitu indah.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Disini kami bersyukur atas nikmatnya kesegaran udara pagi.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Disini kami dapat melihat begitu luasnya hamparan bumi.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Semoga kami selalu menjadi orang-orang yang bersyukur.ㅤㅤ
ㅤㅤ
Terima kasih 2017...Selamat datang 2018...ㅤㅤ
ㅤㅤ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERUSUHAN SAMPIT (DAYAK VS MADURA) SALAH SATU ANCAMAN “HUMAN SECURITY’

Oleh : Sintia Catur Sutantri (170820160009) A.    Faktor Pemicu Kerusuhan Sampit Kerusuhan yang terjadi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi antara Suku Dayak dan Madura sejak berdirinya Kalimantan Tengah . Penduduk Madura pertama tiba di Kalimantan tahun 1930 di bawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Tahun 2000, transmigran membentuk 21% populasi Kalimantan Tengah. Suku Dayak merasa tidak puas dengan persaingan yang terus datang dari warga Madura yang semakin agresif. Hukum-hukum baru telah memungkinkan warga Madura memperoleh kontrol terhadap banyak industri komersial di provinsi ini seperti perkayuan, penambangan dan perkebunan. Konflik Sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota Sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke selu...

Manfaat Pencak Silat untuk Anak Usia Dini

"Anak saya masih TK, boleh ga ikut latihan bela diri?" "Duh anak saya aman ga ya kalau ikut latihan silat? Takutnya dia jadi suka pukul temannya." "Wah bahaya banget deh anak kecil udah ikut latihan silat?" Pertanyaan diatas adalah contoh kekhawatiran orang tua atau masyarakat pada umumnya tentang keikutsertaan anak usia dini dalam aktivitas beladiri, khususnya pencak silat. Padahal, pencak silat bukan sekedar bela diri. Ulasan manfaat pencak silat secara umum sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya. Silahkan kunjungi link http://cikizentukangetik.blogspot.co.id/2017/11/manfaat-silat-bukan-sekedar-untuk-bela.html?m=1 . Kali ini tulisan saya khusus mengulas manfaat pencak silat untuk anak usia dini. Saya mulai melatih pencak silat anak usia dini sejak tahun  2008 di  Keluarga Silat Nasional Indonesia Perisai Diri . Tak terasa, ternyata sud ah hampir 10 tahun. Dalam perjalannya saya selalu belajar dari anak-anak dan orang tua mereka. B...

DIPLOMASI BUDAYA JEPANG DI INDONESIA (ANALISIS PERSPEKTIF LIBERALISME)

Oleh : Sintia Catur Sutantri (170820160009) A.   Latar Belakang Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II membuat Jepang harus membenahi diri guna membangun kembali negaranya dan mengembalikan citra negaranya di dunia Internasional. Kekalahan perang berdampak pada evolusi yang dilakukan n egara itu sendiri, yakni adanya perubahan dalam diplomasi publik. Sebelumnya Jepang terkenal dengan kekuatan militernya, Jepang bahkan melakukan penjajahan di beberapa n egara, mulai dari China, Korea bahkan Indonesia. Dampak dari penjajahan Jepang terhadap beberapa Negara di Asia membawa citra Jepang kian terpuruk sehingga pasca Perang Dunia II, Jepang berusaha untuk merevitalisasi diplomasinya yakni dengan cara yang lebih soft dengan tidak menggunakan militer. Perubahan kebijakan diplomasi ini terkait dengan Deklarasi Postdam yang menyatakan Jepang dilarang menggunakan kekuatan militernya tetapi diizinkan untuk melakukan perdagangan bebas. Berdasarkan isi Deklarasi Postdam maka Jepang b...