Langsung ke konten utama

Postingan

#10yearswannabechallenge

Lagi musim hastag#10yearschallenge di berbagai medsos. Tujuannya adalah memperlihatkan perbedaan foto 10 tahun yang lalu dengan foto terkini. Seru-seruan aja sih ya terlihatnya. Ada yang tadinya kulit sawo matang jadi putih, kurus jadi gemuk, sukses jadi makin sukses, tidak berkerudung jadi berkerudung, dan lain sebagainya. Namun, keseruan tersebut menimbulkan pro dan kontra juga. Ah tapi apa sih di sini yang ga pro kontra? Dari masalah serius sampai masalah remeh temeh ujung-ujungnya jadi bahan perdebatan. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, saya sendiri mengapresiasi ide #10yearschallenge karena ternyata banyak banget orang kreatif yang ikutan challenge itu. Ide-ide foto yang di publish jadinya tidak selalu fotomorfosis foto diri, melainkan menyandingkan foto diri dengan tokoh-tokoh favoritnya. Pada akhirnya selain jadi bahan nostalgia, hastag tersebut cukup bisa menghibur dalam situasi politik negeri ini yang sedang memanas (walau banyak juga sih yang bikin hastag ini akhi...

Mode Pakaian Emak Favorit Bocah

Berbincang dengan anak sulung tentang mode berpakaian masa kini. Dia mulai suka memberi komentar terhadap mode berpakaian dimanapun dia lihat. Di sekolah, di mall, di jalan, di pasar, di tempat olah raga, diam-diam dia memperhatikan. Seringkali dia langsung sampaikan juga kepada emaknya perihal fenomena berpakaian masa kini. Banyaknya sih dia komentarin cara berpakaian emak-emak. Komentar pertama, "Bunda..bunda..tadi aku liat di sekolah ya, ibu-ibu pake kerudung tapi bajunya ketat, belakangnya keliatan". Komentar kedua, "Bunda, itu teh pake kerudung tapi meni riweuh ya. Bajunya panjang banget sampe ke lantai. Atuh kotor ya bun". Komentar ketiga, "Bunda, kok orang pake kerudung nyanyi dangdut sambil joget-joget gitu sih? Geuleuh". Komentar keempat, "Bun, itu pake baju sama kerudung meni ga nyambung. Masa bajunya bunga-bunga kerudungnya belang-belang?" Komentar kelima, "Bun kenapa sih orang suka pake baju bolong?" Komenta...

Sensasi Makan di Tengah Asap

Pernah makan di tengah asap? Seru juga loh. Sensasi makan di tengah asap bisa dirasakan di kawasan sate maranggi Plered, Purwakarta. Lokasinya sebelah stasiun Plered. Kalau dari bandung sekitar 1 jam jika lewat tol. Di tempat ini, ada beberapa tukang sate. Saat dia membakar sate, para pembeli duduk di sekelingnya. Jadilah asap dari pembakaran sate hinggap menyerbu para pembeli. Awalnya sih ga nyaman, tapi lama-lama ya dinikmati saja karena terbayar oleh nikmatnya sate maranggi yang disajikan fresh dari pembakaran (pembakaran kok fresh..hihi). Nasi berbungkus daun dengan porsi kecil disediakan di tempat itu. Satu tusuk sate tidak terlalu banyak daging/lemaknya, jadi sekali atau 2 kali makan ya langsung habis. Hal tersebut akhirnya membuat ketagihan dan ga kenyang-kenyang. Sambalnya pun bisa dipilih sendiri, ada sambal kacang dan sambal kecap, tidak lupa acar sebagai pelengkap. Kalau mau yang berkuah-kuah bisa pesan sop daging. Oiya, daging yang digunakan sebagai bahan baku sate a...

Angkot

Angkot, kendaraan favorit masa sekolah. Pertama kali menaiki angkot saat SMP karena jarak cukup jauh. Tema angkot kali  ini terinspirasi dari kejadian 3 hari yang lalu. Setelah sekitar setahun kebelakang saya lebih banyak menggunakan ojol, akhirnya terpaksa menggunakan angkot karena hujan deras. Penumpangnya hanya 3 orang dan sang sopir menyetel lagu-lagu tembang kenangan, nostalgia jadinya. Memandangi ruang kosong yang amat luas, jadi teringat suka duka naik angkot di masa sekolah dulu. Mungkin beberapa pembaca disini merasakan hal yang sama. Ada beberapa hal yang ngangenin dan nyebelin dari angkot. 1. Sensasi  "75" Sensasi menaiki angkot kala itu adalah dempet-dempetan dan kalimat, "ayo geser...geser...tujuh lima..tujuh lima..". Bagi anak-anak sekarang mungkin sudah tidak paham makna kalimat tersebut karena sudah lebih banyak naik kendaraan menggunakan aplikasi online. Termasuk saya juga sangat terhitung berapa kali naik angkot selama 1 tahun kebelakang in...

Bagaimana Jika

Manusia pasti punya rencana yang terjadwal maupun hanya berupa khayalan. Sesuatu yang terjadwal tidak akan terealisasi jika pelaksanaannya hanya khayalan, sedangkan khayalan bisa terealisasi jika pada akhirnya dijadwalkan. Semua rencana pasti ada jalannya,  sudah ada yang menetapkan. Sematang apapun rencana dan persiapan kita, jika Alloh belum mengijinkan, maka gagal lah rencana itu. Tema kali ini memaksa untuk menuliskan kalimat "bagaimana jika" yang kebetulan sedang mengisi ruang pikir beberapa hari kebelakang. Tidak akan dituliskan disini karena sifatnya masih rahasia. Rahasia saya dan DIA. Masih dipertimbangkan dengan matang dan menunggu DIA mengetok palu. Jadi sampai waktu itu tiba, 5 pertanyaan bagaimana jika: 1. ..... 2. ..... 3. ..... 4. ..... 5. ..... Akan terus mengisi ruang pikir di kepala yang akhirnya terhubung ke hati. Biarlah waktu yang menjawab 5 pertanyaan diatas. Lalu, bagaimana jika...... (Ah biar saya dan DIA yang tahu) @30hariberce...

Becak

Kejadian hari ini memaksa saya untuk menaiki kendaraan roda 3 yang sudah jarang keberadaannya. Awal mulanya, saya bermaksud menuju Kiaracondong dari Setiabudhi Bandung. Jika menaiki ojol, saya split 2x karena jaraknya cukup jauh. Sangat sulit dapat ojol yang mau pick up dengan jarak sejauh itu (tarif 27 ribu). Jadi saya order dulu sampai RRI Bandung di Supratman, lalu lanjut order lagi sampai Kiaracondong. Hari ini kejadiannya lain, di perjalanan menaiki ojol sudah mulai gerimis. Mendekati titik tujuan hujan semakin besar, jadi saya putuskan untuk menaiki taxi online. Namun sulit sekali dapat driver yang pick up. Akhirnya saya menaiki angkot Riung Bandung. Di perjalanan hujan semakin deras, petir menyambar-nyambar, jalanan banjir, dan pandangan menjadi gelap. Penumpang angkot hanya ada 3 orang dan air hujan pun masuk ke dalam angkot. Saya hanya bisa berdo'a agar hujan cepat reda karena perjalanan saya masih cukup jauh. Sesampainya di titik tujuan, hujan masih belum reda ...

Jalan Pulang

Hari ini adalah tanggal kelahiran Guru Besar dan Pendiri Perisai Diri, Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo. Namun hari ini, kabar duka atas kepergian Pendekar Historis Perisai Diri, Bapak Arnowo Adjie pun datang. Para Pendekar Historis satu persatu pulang.  Teringat saat almarhum Bapak Bambang Soekotjo (Max Noll) berpulang di tahun 2017. Rasa kehilangannya sulit terobati, hingga saat ini masih terus merasa kehilangan. Seringkali terpikir, "Andai saja bapak masih ada, maka......." (banyak pikiran berkecamuk, banyak harapan yang belum tersampaikan). Jalan pulang seseorang sudah ditetapkan oleh-Nya. Sekitar 2 minggu yang lalu, almarhum Mas Owo hadir dalam event Kejurnas Pelajar Perisai Diri di Bandung bersama beberapa Pendekar Historis lainnya. Begitu banyak orang yang berbincang dan berfoto dengan beliau. Kami merasa bangga pak, bangga bertemu dengan bapak, bangga mendengar berbagai cerita bapak, bangga menjadi bagian dari keluarga yang juga dibesarkan oleh bapak. Namun ...