Langsung ke konten utama

Postingan

GA MAU MENINGGAL

Suatu hari, Zena dan Quin berbincang-bincang mengenai siklus hidup manusia sampai akhirnya berujung pada bahasan kuburan dan manusia pasti akan meninggal.  Lupa bahasan awalnya seperti apa, hanya yang saya dengar selanjutnya kurang lebih begini: Z : "Mbah pas meninggal dikuburnya di Makam Pahlawan loh Quin." Q : "Kenapa namanya makam pahlawan?." Z : "Kan disana banyak pahlawan yang dikubur?" Q : "Kenapa mbah bisa meninggal?." Z : "Kan mbah udah tua..terus sakit." Q : "Jadi mbah meninggalnya jadi Pahlawan?" Q : " Tanya bunda geura." Lalu mereka berdua bertanya, ZQ : " Bun..mbah uti pahlawan?." B   : " Iya...mbah mah pahlawan buat bunda karena udah melahirkan, merawat, membesarkan dan ngajarin banyak hal." ZQ : "Berarti bunda juga pahlawan dong? Kan udah ngelahirin aku." B  : "Iya..semua ibu itu pahlawan." Q  : " Terus nanti bunda meningg...

THIS IS ME

Sejak terlahir di dunia ini, kita ga pernah tau kelak akan seperti apa. Namun yakinlah, Alloh sudah menentukan jalan kita. Ga usah ngoyo...nanti juga Alloh akan menjunjukkan jalannya. Jalani saja lah suka duka nya. Sejak kecil, saya terbiasa hidup dengan berbagai kesederhanaan. Ga berlebih, tapi juga ga kekurangan. Kedua orang tua yang saya cintai begitu hebat dalam memberikan pelajaran hidup. Hingga saya menjadi yang sekarang ini. Banyak yang menganggap sy ini masih anak kuliahan, malah juga anak sekolah tingkat SMA. Di tempat saya mengajar juga seringkali tak terdeteksi sebagai dosen 😀. Penampilan saya memang tergolong santuy, tapi masih sopan ya. Tas ransel dan sepatu olah raga sudah jadi teman beredar sehari-hari. Wajah tanpa make up juga menjadi kenyamanan bagi diri sendiri (ya sesekali pake lipen setip lah...bedaknya sih masih pake bedak bayi😅). Punya bocah 2 ga akan mempengaruhi "kesantuyan" saya. Santuy namun tetap berkarya. Nemenin mahasiswa di Sabtu malam...

TERTUNDA

Sejak dinyatakan lulus pada 3 Juli 2018 lalu, pertanyaan, "Kapan wisuda?", seringkali menggelayut di telinga. Wisuda gelombang IV bulan Agustus 2018 lewat. Wisuda gelombang I bulan November 2018 lewat. Kecewa? Tidak. Karena saya memiliki alasan lain yang lebih penting untuk disegerakan. Mengemban amanah untuk memimpin sebuah event yang berurusan dengan ribuan orang itu tidak mudah. Butuh tenaga, mental dan fisik yang prima. Maka revisian tesis untuk sementara waktu saya tunda walau akhirnya otomatis menunda wisuda dan tertahannya ijazah kelulusan saya. Tak masalah...karena saya yakin Alloh sudah mengaturkan jadwal hidup saya. Selanjutnya pada bulan November 2018 saya berjanji kepada diri saya sendiri, akan membayar tunai semuanya di awal tahun 2019. Januari 2019, sebetulnya saya harus menyelesaikan laporan event. Namun saya ingat janji saya di bulan November 2019. Akhirnya dengan bantuan tim, laporan event 50% selesai. Saya kembali menuntaskan revisian tesis, menutup dahul...

SUDAH WAKTUNYA BERPENDAPAT (Bicara Moralitas)

Semenjak Pilpres menjadi isu penting di media sosial, saya hanya mengamati tanpa ingin berkomentar lebih. Kenapa? Karena saya pikir hanya membuang tenaga jika berkomentar di media sosial. Lebih baik berdiskusi di ruang kelas sambil mengupas teori-teori politik yang relevan. Begitu banyak "orang pintar" yang belajar politik secara otodidak atau melalui "kuliah online"  dan hanya menangkap berbagai informasi dan ilmu karena latar belakang dukungan terhadap seseorang tanpa memahami teori politik yang ada. Begitu banyak orang yang "pintar" berkomentar mengenai politik sambil "membodoh-bodohkan"  dan menghina orang lain. Begitu banyak manusia yang membinatangkan manusia lain dengan cara "mencebongkan" atau "mengampretkan". Padahal Alloh menciptakan manusia sebagai makluk paling sempurna yang dibekali akal untuk berpikir. Begitu banyak berita hoax beredar dengan deras yang menyebabkan sesat pikir dan perpecahan dalam medi...

#10yearswannabechallenge

Lagi musim hastag#10yearschallenge di berbagai medsos. Tujuannya adalah memperlihatkan perbedaan foto 10 tahun yang lalu dengan foto terkini. Seru-seruan aja sih ya terlihatnya. Ada yang tadinya kulit sawo matang jadi putih, kurus jadi gemuk, sukses jadi makin sukses, tidak berkerudung jadi berkerudung, dan lain sebagainya. Namun, keseruan tersebut menimbulkan pro dan kontra juga. Ah tapi apa sih di sini yang ga pro kontra? Dari masalah serius sampai masalah remeh temeh ujung-ujungnya jadi bahan perdebatan. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, saya sendiri mengapresiasi ide #10yearschallenge karena ternyata banyak banget orang kreatif yang ikutan challenge itu. Ide-ide foto yang di publish jadinya tidak selalu fotomorfosis foto diri, melainkan menyandingkan foto diri dengan tokoh-tokoh favoritnya. Pada akhirnya selain jadi bahan nostalgia, hastag tersebut cukup bisa menghibur dalam situasi politik negeri ini yang sedang memanas (walau banyak juga sih yang bikin hastag ini akhi...

Mode Pakaian Emak Favorit Bocah

Berbincang dengan anak sulung tentang mode berpakaian masa kini. Dia mulai suka memberi komentar terhadap mode berpakaian dimanapun dia lihat. Di sekolah, di mall, di jalan, di pasar, di tempat olah raga, diam-diam dia memperhatikan. Seringkali dia langsung sampaikan juga kepada emaknya perihal fenomena berpakaian masa kini. Banyaknya sih dia komentarin cara berpakaian emak-emak. Komentar pertama, "Bunda..bunda..tadi aku liat di sekolah ya, ibu-ibu pake kerudung tapi bajunya ketat, belakangnya keliatan". Komentar kedua, "Bunda, itu teh pake kerudung tapi meni riweuh ya. Bajunya panjang banget sampe ke lantai. Atuh kotor ya bun". Komentar ketiga, "Bunda, kok orang pake kerudung nyanyi dangdut sambil joget-joget gitu sih? Geuleuh". Komentar keempat, "Bun, itu pake baju sama kerudung meni ga nyambung. Masa bajunya bunga-bunga kerudungnya belang-belang?" Komentar kelima, "Bun kenapa sih orang suka pake baju bolong?" Komenta...

Sensasi Makan di Tengah Asap

Pernah makan di tengah asap? Seru juga loh. Sensasi makan di tengah asap bisa dirasakan di kawasan sate maranggi Plered, Purwakarta. Lokasinya sebelah stasiun Plered. Kalau dari bandung sekitar 1 jam jika lewat tol. Di tempat ini, ada beberapa tukang sate. Saat dia membakar sate, para pembeli duduk di sekelingnya. Jadilah asap dari pembakaran sate hinggap menyerbu para pembeli. Awalnya sih ga nyaman, tapi lama-lama ya dinikmati saja karena terbayar oleh nikmatnya sate maranggi yang disajikan fresh dari pembakaran (pembakaran kok fresh..hihi). Nasi berbungkus daun dengan porsi kecil disediakan di tempat itu. Satu tusuk sate tidak terlalu banyak daging/lemaknya, jadi sekali atau 2 kali makan ya langsung habis. Hal tersebut akhirnya membuat ketagihan dan ga kenyang-kenyang. Sambalnya pun bisa dipilih sendiri, ada sambal kacang dan sambal kecap, tidak lupa acar sebagai pelengkap. Kalau mau yang berkuah-kuah bisa pesan sop daging. Oiya, daging yang digunakan sebagai bahan baku sate a...